Journal d'information National
10/05/2009

 "Nggak Ada Matinya" : "Chui immortel" 

 

d'après l'oeuvre de Baptiste Debombourg dans l'exposition Ligne à ligne de Michel Nuridsany à la Galerie Nationale de Djakarta en Indonésie.

phrase en mégots 70x25xm

 

 

ilham khoiri & ninuk mardiana pambudy

 

"Nggak ada matinya.” Kata-kata itu tersusun dari potongan puntung rokok yang ditempelkan di dinding. Kalimat provokatif ini segera mengundang tanya: bukankah kebiasaan merokok justru mempercepat kematian?

 

Pertentangan antara material rokok yang dinilai mengantar manusia pada kematian dan pesan teks yang memuja kehidupan abadi itu memang menggelitik. Visual anatomi hurufnya juga unik karena dirakit dari patahan atau tekukan puntung rokok yang biasanya hanya jadi sampah.

 

Penampilan tulisan puntung rokok itu terasa lebih menonjol lagi karena dipasang pada dinding, tepat di depan pintu masuk ruang pameran Galeri Nasional, Jakarta, sehingga langsung menyapa pengunjung. Inilah buah tangan Baptiste Debombourg (31) seniman dari Paris, Perancis. Bersama 32 seniman lain, karya ini ditampilkan dalam pameran ”Ligne à Ligne (Garis ke Garis)” di Galeri Nasional, 5-16 Mei.

 

Peserta umumnya tinggal di Paris, tetapi sebagian berasal dari berbagai negara, seperti Maroko, Korea, Israel, China, dan India. Indonesia diwakili perupa asal Bandung: Prilla Tania (30) dan Dimitri Rangga (29). Pergelaran yang diselenggarakan Pusat Kebudayaan Perancis Jakarta ini ditangani kurator asal Perancis, Michel Nuridsany.

 

Beberapa karya lain yang menyita perhatian, antara lain instalasi benang wol karya Dan Mu. Dengan benang, dia menciptakan berbagai bentuk garis: melingkar di lantai, menggelantung di udara, menjuntai, membentuk ornamen mirip bunga, atau dibiarkan menggulung begitu saja. Permainan garis ini sangat fleksibel, berlapis, dan menciptakan volume yang memenuhi ruangan di sudut kanan galeri. Pengunjung dipersilakan berinteraksi dengan benang-benang itu, merasakan ruang.

 

Karya Prilla Tania, ”Mangga Tetangga”, juga menggigit. Dia memanfaatkan dua dinding besar saling berhadapan. Satu dinding diblok warna hitam, goresan kapur putih membentuk gambar halaman rumah, pagar, dan pohon mangga berbuah lebat.

 

Dinding lain dijadikan layar proyeksi video animasi Prilla sedang masuk gambar halaman tadi. Dia berjalan, mengembangkan payung, menutupnya, kemudian menyodok buah mangga dengan ujung payung sehingga berjatuhan. Terdengar juga suara anjing menggonggong.

 

Rekaman kegiatan Prilla itu seperti masuk dan berhubungan dengan gambar dari goresan kapur di dinding dua dimensi. Gambar dua dimensi dan video tiga dimensi seolah bertautan. ”Saya membuat ilusi optik yang menyatukan drawing, performance, dan video,” kata Prilla.

 

Garis

 

Sesuai tema ”Garis ke Garis”, pameran ini berusaha mengulik persoalan garis dalam ranah seni rupa. Pameran ini mencoba membongkar konvensi selama ini: garis identik dengan karya dua dimensi, seperti goresan dalam drawing atau sapuan kuas dalam lukisan. Eksplorasi garis digarap dengan beragam media, pendekatan, dan penyajian sehingga menghasilkan dimensi lebih kaya.

 

Ada yang mengolah garis dengan membuat deretan lubang pada kertas (Aliki Braine), menempelkan rambut di atas kertas (Isabelle Cornaro), merajut payet di atas kain sutra (Anne Deguelle), titik-titik animasi di layar kaca (Elanit Leder), dan membuat garis pada kertas panjang (Rodolphe Delaunay). Atau membuat animasi digital (Shanta Rao), stiker (Sammy Stein), cetak digital di atas kertas lebar mirip kertas dinding (Claire Trotignon), atau melukis dengan susu manis di dinding putih yang dikerubuti semut merah (karya Dimitri Rangga).

 

Semua itu memperlihatkan, seniman semakin merdeka, tanpa dikungkung batasan atau konvensi apa pun. Demi menghasilkan karya segar, setiap seniman leluasa bergulat dan bereksperimen dengan beragam material, teknik, konsep, dan pengajian.

 

”Peserta dipilih setelah saya banyak melakukan perjalanan dan mengamati seniman di berbagai negara. Karya mereka punya gagasan segar, kreatif, inovatif, dan mengolah media baru. Ada semangat menerabas batasan seni rupa lama,” kata Nuridsany.

 

Fenomena pembebasan seni rupa semacam itu tumbuh di Perancis dan dunia, terutama sejak tahun 1980-an. Itu pun merupakan kelanjutan spirit gelombang demi gelombang gerakan seni dunia sebelumnya. Sebut saja gerakan Marchel Ducham yang mencomot barang bekas untuk dijadikan karya seni, Andy Warhol yang memelopori pop art Amerika dengan mencetak citra pabrikan, atau Jean Michel Basquiat gelandangan yang menghidupkan kemerdekaan seni grafiti.

 

”Ciri khas seni rupa selalu bergerak menuju pembebasan dan dibuat untuk mengguncang. Ketika ada definisi baru, seniman membongkarnya untuk menciptakan sesuatu yang lebih baru. Begitu seterusnya,” kata Nuridsany.

 

Guncangan?

 

Apakah semangat mengguncang benar-benar terasa dalam ”Ligne à Ligne”? Agaknya pergelaran ini belum sepenuhnya memberi guncangan itu.

 

Sebagian karya masih belum beranjak jauh dari tradisi lama, seperti goresan drawing dengan arang, lelehan cat air, kolase warna-warni, atau coreng-moreng krayon di atas kertas. Apalagi, sebagian karya masih disajikan sebagai benda dua dimensi yang dibingkai dan dipajang di dinding datar.

 

Mungkin kehadiran karya konvensional itu dibutuhkan untuk melengkapi eksplorasi garis. Hanya saja, jika kurator mau lebih suntuk mencari seniman muda bersemangat pembebasan, tentu akan menemukan seniman lain dengan karya yang lebih mengguncang. Hanya dengan guncangan itulah seni akan kembali akan menemukan jati dirinya sebagai eros yang ”nggak ada matinya”.

 

article

 

indo3.jpgindo4.jpgindo5.jpgime.jpgim.jpg