section art Djakarta
11/06/2009

Article sur l'exposition de dessin Ligne à ligne de Michel Nurisdany à la Galerie Nationale de Djakarta en Indonésie

 

d'après l'oeuvre "Nggak Ada Matinya", traduction Indonésienne de "Chui Immortel"/ installation en mégots au mur  70x25cm / Baptiste Debombourg

 

 

Seribu Kemungkinan Garis

 

Pameran yang mengeksplorasi garis, dari yang tradisional sampai digital dan meruang, digelar di Galeri Nasional Indonesia. Karya 33 perupa dari berbagai negara, dua dari Indonesia, yang mengajak merenungkan kembali dasar seni rupa.

 

PADA mulanya adalah garis, lalu terbentuklah gambar. Ada yang kemudian mewarnai gambar itu, ada yang membiarkannya sebagai gambar yang dibentuk oleh garis. Di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pameran Dari Garis ke Garis menyuguhkan berbagai kemungkinan garis membentuk gambar. Dari garis yang diciptakan melalui medium ”tradisional” pensil atau pena dan tinta, garis yang dibentuk secara digital dengan komputer, garis yang dibentuk oleh sambungan batang rokok atau sambungan lampu neon, sampai garis nyata berupa benang yang ditarik dari dinding ke dinding.

 

Wujud karya pun beragam. Dari gambar-gambar di kertas dalam ukuran panjang-lebar hanya belasan sentimeter, gambar yang dihadirkan sebagai mural di dinding ruang pameran yang luas, gambar dalam seni rupa video yang menggunakan teknik animasi, sampai sebuah ruangan yang diisi dengan benang bersilangan, berpotongan, yang ujungnya ditempelkan ke dinding dan dibentuk berliku-liku terkesan sebagai ornamen.

 

Tapi mengapa garis? Kritikus Kusnadi (almarhum) pada 1950-an menyatakan bahwa garis adalah unsur seni rupa yang ekonomis. Karya seni rupa yang dibentuk hanya oleh garis, hanya dengan pensil di selembar kertas, yang umumnya disebut sketsa, nilai estetikanya tak kalah dengan sebuah lukisan cat minyak besar penuh warna-warna, kata dia.

 

Dan di Galeri Nasional sampai Sabtu pekan ini, berbagai gambar dari garis itu membawa kita mengembara ke dunia imajinasi. Michel Nuridsany, kurator, memang menganggap garis sebagai unsur seni rupa yang sangat bisa menjelajahi dunia fisik dan psikis yang luas. Garis, tulisnya, bisa dieksplorasi sehingga ”melewati batas, di ranah tak dikenal, mencari, dengan penuh keberanian, tersesat, menemukan dan berimajinasi”.

 

Berkeliling di ruang pameran, yang kemudian memukau perhatian justru dua karya seni rupa video yang dipasang di ruang paling belakang. Itulah Land O Line karya Elanit Leder, seniman Israel kelahiran Tel Aviv, 1971. Mula-mula adalah kosong, lalu bayang-bayang, noktah-noktah, membentuk garis, membangun gambar. Hanya sekian persepuluh detik gambar itu hadir, untuk kemudian berproses kebalikannya, menuju kosong. Karya ini tak hanya menunjukkan proses menggambar. Land O Line memberikan kesan terbentuknya semesta dari tiada dan menuju ke tiada. Dengan medium teknologi (inilah new media art, kata mereka yang gemar istilah) pun suatu kesan transendensi, sesuatu yang di atas kenyataan, yang konon dihindari oleh karya-karya yang disebut ”kontemporer”, ternyata bisa ada.

 

Inilah pencapaian yang tak kalah dengan karya ”klasik” Paul Gauguin yang kesohor itu, yang bertanya: ”Dari mana kita datang? Siapa kita? Ke mana kita pergi?” Karya yang menyebabkan Gauguin mengaku tak bisa lagi melukis; seluruh dirinya sudah ia pasrahkan ke dalam karya berukuran sekitar 140 x 380 sentimeter ini. Memang, seingat saya Land O Line tak sememukau ”Dari mana…” itu. Namun Leder berbicara dengan bahasa masa kini, bahasa sekitar kita. Sementara karya Gauguin menyebabkan kita merenungkan hidup, Leder mengajak kita merenungkan sekeliling kita berada.

 

Dan yang penting, pada saya, karya ini memudahkan dialog dengan karya-karya yang lain. Seolah Land O Line memberikan kursus singkat untuk memahami keseluruhan pameran ini.

 

Karya lain, juga seni rupa video, menggambarkan proses yang sama tapi cerita yang berbeda. Inilah karya Dimitri Rangga—bersama Prilla Tania adalah dua seniman Indonesia di antara 33 peserta—kelahiran Bandung, 1980. Karya ini rekaman semut merubung garis di tembok yang dibuat dengan susu kering. Garis itu membentuk gambar cawan lengkap dengan lepek, dan di bawahnya tulisan ”PEACE”.

 

Mula-mula semut berdatangan, merubung garis, kemudian satu per satu pergi, dan hanya ada gambar cawan itu serta tulisan yang berarti damai. Berbeda dengan Land O Line yang memukau, Chel Peace (judul karya Rangga ini) pada saya menggambarkan peristiwa sehari-hari. Dari peristiwa ini, silakan Anda menemukan hal-hal yang pribadi; mungkin itu adalah pertanyaan: ”Hidup untuk makan atau makan untuk hidup?” Bisa juga kesan lain: ”Habis manis ditinggalkan.”
Dari ruang ini, satu karya lagi yang sangat mengesankan adalah Au fil du paysage (Benang-benang Pemandangan) karya Dan Mu, seniman kelahiran Cina, 1979. Benang hitam dan merah mengisi sebuah ruang sekitar 2,5 x 2,5 x 3 meter. Benang itu ditarik dari satu sisi ke sisi lain, bersilangan dan berpotongan. Di tembok, benang dibentuk bagaikan hiasan, melenggok-lenggok. Garis ternyata tak hanya di bidang dua dimensi. Garis bisa membentuk ruang yang nyata, menyuguhkan suatu komposisi tiga dimensi yang membuat kita asyik mereka-reka: inikah dunia tempat kita hidup?

 

Kemudian kita lihat berbagai karya yang mengeksplorasi garis sejauh mungkin. Maka ada karya Aliki Braine (kelahiran Paris, 1976), Lanskap Buta. Gambar pemandangan pohon terbentuk dari titik-titik (bukantah garis adalah sekumpulan titik) di kertas putih yang dibuat dengan ujung benda tajam, tipis. Jadinya, pemandangan itu antara tampak dan tidak. Atau sejumlah sketsa dari Damien Cabanes, seniman Prancis kelahiran 1959, yang merupakan ”fragmen” dari suatu peristiwa, atau ilustrasi tentang sebuah kisah.

 

Gagasan bisa dari mana saja. Baptiste Debombourg (kelahiran 1978) menggarap nama café atau kata yang sering diucapkan dalam pergaulan café dari medium yang menurut dia mewakili makna kata atau nama itu. Maka, berdasarkan informasi yang ia peroleh, dibuatnyalah karya dengan media puntung rokok, disambung-sambung membentuk kata ”Nggak ada matinya”. Konon, tiga kata itu populer dalam pergaulan beberapa café di Jakarta. Sebuah permainan kreativitas, sepele tapi unik, sederhana namun menggelitik.

 

 

Dan demikianlah, masih banyak karya yang menyuguhkan berbagai kemungkinan penggunaan garis. Sebuah dinding dipenuhi gambar-gambar yang secara keseluruhan bagaikan sebuah wallpaper. Konon model gambar ini dari abad ke-18, di India, aslinya dibuat dengan teknik semacam cukilan kayu. Claire Trogtignon (kelahiran 1983) menciptakan kembali seni menghias ini dengan teknik digital. Tentu saja ia tak lagi menggambar motif-motif pedesaan yang damai. Gantinya, ia membuat cerita tentang pertempuran, tentang kematian.

Atau gambar Keyin Qu, seniman Cina kelahiran 1973, sebuah demonstrasi kepiawaian menggambar tangan, atau tali, persis seperti tampak mata. Juga gambar-gambar Lionel Sabatte (kelahiran 1975), yang cocok untuk ilustrasi cerita anak-anak: gambar burung naik tangga, atau pohon yang miring gara-gara seekor burung kuning bertengger di ujung batang. Atau gambar bentuk-bentuk fantastis, kecil-kecil, dari Charlotte Pueritas (kelahiran 1974): ada yang mirip kerikil, gigi, dan sebagainya.

 

Pameran ini seperti mengajak kita merenungkan kembali dasar seni rupa yang ternyata masih menjadi modal utama banyak seniman. Sebab, dengan unsur yang ekonomis itu, ternyata hal yang sangat kecil (gambar semut) hingga yang semesta (benang-benang yang mengisi ruang) bisa digambarkan dan dengan beragam medium. Dari sekadar menunjukkan keterampilan membentuk sesuatu yang musykil sampai mempertanyakan sangkan paraning dumadi (dari mana dan ke mana hidup ini).

 

Bambang Bujono

 

 

article

tempo02.jpgtempo01.jpgdetik1.jpgdetik2.jpg